Matrasit

Salam kenal... Namaku Ahmad Rasyid (nama pena) atau Matrasit, terlahir di Sumenep pada tanggal 6 Mei 1967. Mulai Maret 1988 berprofesi guru di Kabupaten ...

Selengkapnya
DUA PULUH RIBU UNTUK

DUA PULUH RIBU UNTUK

DUA PULUH RIBU UNTUK "NASI BURUNG"

Bagi calon mahasiswa perguruan tinggi negeri pada tahun pelajaran 2019-2020 ini berbeda dengan tahun pelajaran sebelumnya. Dua dari tiga jalur yang biasanya ditempuh oleh calon mahasiswa baru melalui tes cukup sekali kemudian menunggu hasil akhirnya, lulus atau tidak. Kalau dinyatakan lulus berarti harus mendaftar ulang pada perguruan tinggi yang dituju. Namun apabila tidak lulus maka ia harus mencari perguruan tinggi swasta yang diminati tentunya dengan berbagai pertimbangan.

Untuk tahun pelajaran kali ini harus melewati ujian tulis berbasis komputer yang disingkat UTBK. Tempat ujian tes UTBK diselenggarakan pada perguruan tinggi negeri. Oleh sebab itu para calon mahasiswa pada saat pendaftaran mengajukan pilihan tes UTBK-nya yang paling dekat dengan tempat hunian mereka.

Ada hal yang menarik dan cukup menggelikan pada saat anak saya mengikuti UTBK di UTM Bangkalan, Madura. Sebenarnya maklum saja mengingat selama berada di pondok pesantren memang perlakuannya berbeda dengan santri-santri yang lainnya. Anak saya memang tidak mau untuk lebih dari Rp35.000 dalam sepekan. Walaupun di pondok pesantren sudah disiapkan jatah makan ala pesantren yang sangat sederhana, sekadar nasi dan tahu-tempe yang tergabung dalam dana syahriyah. Sebenarnya dengan uang kocek Rp5.000 sehari untuk beli jajan saja bukan suatu kelaziman pada masa ini yang setiap harga merangkak mahal.

Bila didasarkan atas pengakuan sebagian wali santri saat mengirim putra-putrinya ke pondok pesantren yang dijadwalkan setiap hari Jumat dalam sepekan yang saling beranjangsana di ruang tamu dan sudah biasa untuk saling bertutur perlakuan mereka terhadap anaknya, termasuk yang dibicarakannya tentang uang jajan atau uang saku mingguannya. Mereka menyatakan rata-rata antara Rp50.000 sampai dengan Rp100.000 dalam seminggu.

Eaaa... mengingat kebiasaannya yang sangat sederhana itulah pada saat ia bersama temannya yang sepondok, si Ubay namanya hendak berbuka puasa di suatu warung padang pada malam pertamanya ia menginap di Bangkalan mereka sedikit terkejut setelah harus mengeluarkan koceknya Rp20.000 tanpa minuman. Apabila dengan segelas minuman es jeruk menambahnya Rp5.000-an. Hehehe...

"Eh, Bay. Kamu yang beli aja dengan sahur. Aku gak usah." Ucap anakku pada temannya.

Ubay pun memesannya sebungkus untuk persiapan makan sahurnya. Sehingga ia harus mengeluarkan Rp45.000 dari dompetnya. "Lho kamu, Ndu ?"

"Aku nggak usah, cukup dengan jajanan yang aku bawa dari rumah saja untuk sahur nanti. Saya cukup dengan nasi 'burung'." jawabnya. Burung di sini bukan hewan yang biasa hidup di pepohonan dan terbang tinggi, melainkan istilah burung di sini dimaknai sebagai burung dalam bahasa Madura, yang memiliki arti gagal atau gagal (beli). Hehehe

Eee.. pada saat pagi hari ia nelpon neneknya di rumah dan memberitahukannya bahwa pada dini hari tadi tidak sempat ia makan sahur, tapi hanya makan jajanan saja yang dibawa dari rumah. Ya kontan saja si nenek langsung mencari ibunya dan membeberkannya bahwa anaknya tidak makan sahur. Hemm ... jadi ramai deh.

Kontan saja saya pun balik menelponnya dan menanyakan mengapa sampai hal itu terjadi.

"Wah, pak. Makan di sini ternyata mahal. Rp20.000 lho Pak. Dan lagi nasinya dikit banget. Hanya sekepal tangan saya. Eman kan kalau beli harus Rp20.000 hanya dapat sedikit. Lagi 0pula uangnya takut tidak cukup nanti sehingga pulang kalau kemahalan." demikian polosnya.

Akhirnya saya pun wanti-wanti bahwa uang sangunya itu sudah atas pertimbangan kecukupannya. Kalau hanya untuk dua hari dua malam di sana saya pikir akan lebih dari cukup. Dengan uang sangu Rp300.000 itu sudah cukup untuk biaya transportasi dan biaya makan selama di Bangkalan.

Dan ternyata benar. Sepulang dari Bangkalan masih cukup banyak sisanya kan. Tapi ya begitulah. Memang seharusnya belajar mengkalkulasi keuangan selama ada berjauhan dari orang tua menjadi suatu hal yang penting dilakukan. Sehingga untuk kedepannya tetap bisa berhati-hati, berpola hidup yang sederhana, tidak melakukan pemborosan apalagi mubadzir. Dan yang paling penting juga adalah bersikap jujur dan berkeadilan walaupun dengan orang tua sendiri. Tidak harus mengikuti jejak temannya yang berlebih-lebihan, apalagi kemudian tidak bersikap jujur terhadap orang tua. Itulah memang yang diwanti-wanti kepada seluruh anak-anak kami bahwa kejujuran akan mampu menyelamatkan dirinya dari keterpurukan. Kejujuran merupakan sikap yang amanah yang harus selalu dijunjung tinggi di manapun berada. Sekalipun hal itu tidak diketahui oleh siapapun hanya semata Allah Yang Maha Tahu.

Tetaplah semangat dan semoga sukses anakku...

#Ambunten, 14/05/2019

#

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali