Matrasit

Salam kenal... Namaku Ahmad Rasyid (nama pena) atau Matrasit, terlahir di Sumenep pada tanggal 6 Mei 1967. Mulai Maret 1988 berprofesi guru di Kabupaten ...

Selengkapnya
QADAR, BUKAN SEKADAR

QADAR, BUKAN SEKADAR

QADAR, BUKAN SEKADAR

*Salah satu tanda orang diridhai, ia tak kan melupakan dalam berdoa dan sebab dengannya sebaik-baik berkomunikasi...

=====

Dalam catatan HUT RI ke-74, khususnya pada tanggal 17 Agustus 2019 seusai Upacara Bendera, panitia HUT bidang lomba keolahragaan menyelenggarakan lomba tarik tambang untuk siswa dan keesokan harinya untuk kaum mak-mak. Pada ajang lomba untuk siswa SDN PADANGDANGAN 1 mengirimkan dua kelompok untuk Pa dan Pi. Hasilnya, Allah menakdirkan Pa kalah, sedangkan Pi juara.

Tarik tambang tidak membutuhkan teknis dan latihan yang berat. Cara seleksi pun tidak terlalu ketat. Cukup dilihat bentuk badannya. Pilihlah yang tampak kekar, berotot, dan berat alias gemuk, begitu kira-kira. Walaupun untuk item ketiga tidak menjamin kemampuannya pasti digdaya. Adapun formasi jumlah bergantung pada kesepakatan pada saat teknikal meeting yang kemudian ditetapkan oleh panitia. Namun biasanya berjumlah ganjil semacam 5 atau 7 orang.

Secara teknis perlu dipertimbangkan tentang penempatan pemain dalam satu tim. Hal yang pokok sebagai benteng pertahanan adalah bagian terdepan dan belakang. Posisi Inilah yang harus ditempati oleh mereka yang secara IQ lebih cerdik dan badannya lebih kuat. Untuk formasi dapat zigzag atau posisi berhadap-hadapan. Bisa pula formasinya semua di bagian yang sama misalkan kanan atau kiri semua. Hal tersebut harus menjadi perhatian penting dalam satu tim yang dikoordinasikan oleh pelatih.

Cara memegang tambang pun harus benar dengan cara mencengkram sekuat-kuatnya. Termasuk di dalamnya kecondongan badan ke arah yang sesuai. Pertahanan kaki dengan sebisa-bisanya mencari sesuatu yang dapat menjadi tumpuan untuk lebih kuat bertahan, namun tidak harus menggali lubang. Perhatian pandangan dan pendengaran harus fokus pada komando wasit (juri start) yang biasanya menggunakan tanda peluit atau benda lain yang mengeluarkan suara cukup keras. Dor atau preet...

Sesuai dengan judul tulisan ini bahwa kalah atau menang bukan hal yang sekadarnya. Melainkan harus ada usaha bagaimana yang terbaik dapat diraihnya walaupun hanya sebatas permainan saja. Sebab di dalamnya terdapat nilai prestasi dan prestise. Dengan prestasi yang dapat diraih akan meningkatkan pandangan dan harga diri dari orang-orang terhadap nilai sebuah kejuaraan, itulah prestise. Bahwa juara adalah sebuah kebanggaan walaupun hanya bersifat sementara. Artinya, dalam setiap upaya apapun harus ada usaha yang kuat disertai keyakinan diri sebagai motivasi untuk mencapai tujuan.

Hal yang tidak bisa dipungkiri bahwa dalam setiap apapun ada campur tangan Sang Penentu. Dalam sebuah tim yang dipandang kuat belum tentu dapat meraih sebuah kemenangan pada akhirnya. Sebab Allah berkuasa penuh dalam menetapkan jalan hidup dan kehidupan setiap makhlukNya. Itulah sifat Qadar Allah yang diberikan kepada setiap makhlukNya. Allah memiliki sifat Jaiz kuasa mengadakan dan kuasa meniadakan. Keputusan akhir merupakan Hak Prerogatif Allah.

Contoh gamblang, bagaimana Allah akan menetapkan kekalahan bagi kelompok Putra. Sangat mudah bagiNya. Pada babak penyisihan sudah dipertemukan dengan tim yang tangguh, memiliki kategori sebagaimana tersebut di atas. Kontan saja dalam waktu tidak sampai satu menit sudah keok. Benar-benar tangguh bahkan tim tersebut sebagai peraih juara ke-1 peserta Putra.

Berbeda dengan tim Putri dengan anggota yang tiada terlalu kuat, tidak kekar, juga tak gemuk. Namun, Allah menakdirkannya untuk bertemu dengan lawan yang sepadan, bahkan di bawahnya. Maka dengan mudah dalam empat kali pertandingan selalu diraihnya dengan kemenangan. Sehingga menjadi juara ke-1 untuk peserta Putri.

Yang tak kalah penting dalam sebuah pertandingan adalah motivasi suporter. Lebih-lebih dalam pertandingan tarik tambang. Sehingga kadangkala terlihat lucu. Saking semangatnya, prilakunya menanggalkan kedewasaannya. Teriakan penyemangat penuh kelucuan, keras suaranya tentu sedikut menggerus kerongkongannya. Pabila menang "horeee" terlontar dari lisannya sambil berjingkrak-jingkrak bahagia dan bangga. Hehehe.

Sebagai pembina semestinya menyadari bahwa kalah dan menang adalah sesuatu hal yang wajar dalam sebuah permainan. Kehidupan dunia adalah lakon pewayangan. Namun, akan besar sekali hikmah yang didapatnya apabila berusaha untuk berpikirnya. Bahwa dalam setiap sesuatu apabila Allah berkehendak sesuai dengan tujuan mereka yaitu meraih kemenangan, akan memudahkan jalannya. Begitu juga sebaliknya, apabila menghendaki kekalahan, diberilah jalan yang sulit untuk meraihnya. Hal yang sangat bijaksana bagi seorang manusia adalah menerima dengan kesenangan hati atas segala keputusan Allah: kalah atau menang. Adalah sebuah keniscayaan, namun serba mungkin adanya.

Likulli syaiin qadran; untuk setiap sesuatu ada kadarnya. Terukur. Dan Allah tidak akan memberikan beban yang berlebihan apabila mereka tidak kuasa untuk mampu menerimanya. La haula wala quwwata illa billah

DIRGAHAYU INDONESIAKU...!

AKU CINTA PADAMU...!

#by Ahmad Rasyid

#Ambunten, 23 Agustus 2019

#CatatanKecilKepalaSekolah

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Aamiin

27 Aug
Balas

Mantap pak...barokallah

23 Aug
Balas

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali