Matrasit

Salam kenal... Namaku Ahmad Rasyid (nama pena) atau Matrasit, terlahir di Sumenep pada tanggal 6 Mei 1967. Mulai Maret 1988 berprofesi guru di Kabupaten ...

Selengkapnya

SANTRI, AYO JADI SOLUSI !

SANTRI, AYO JADI SOLUSI !
(Bagian 07)

Pada keping ke-07 reportase ini seputar _catatan penulis bagian terakhir_ pada sarasehan "Santri, Ayo Jadi Solusi !" yang diselenggarakan oleh F-KAMMAI pada Senin, 10 Juni 2019 di aula Graha Kemahasiswaan STKIP PGRI Sumenep, khusus sesi tanya jawab yang dipandu oleh Ustadz M Ridwan.

Beberapa pertanyaan berhamburan pada saat kran sesi tanya jawab dibuka. Dari enam penanya, tingkat kepercayaan diri mereka beragam. Hal tersebut nampak dari cara mengkomunikasikannya di depan forum. Ada salah satu diantaranya terkesan lucu dan lugu karena memang seolah-olah baru belajar memberanikan diri dalam berkomunikasi. Terlepas dari itu semua, beberapa pertanyaan cukup menggelitik pemateri.

Dari dua termen yang disepakati, terbagi atas tiga penanya per termin. Adapun salah satu tanggapan atas penanya oleh pemateri sudah tersampaikan pada bagian keenam reportase sebelumnya.

Beberapa pertanyaan yang sempat penulis catat di antaranya :
1) Salah satu faktor pendukung intensitas cybermedia oleh santri adalah handphone dan atau keberadaan media internet di pondok pesantren. Sedangkan pondok pesantren belum memfasilitasi internet yang bersifat umum. Boro-boro internet, hp-pun tidak diperkenankan bagi santri. Apakah kami sebagai santri termasuk "korban" aturan pondok pesantren apabila tidak berdaya dalam life-skill atas semua itu ?
2) Peran serta santri apabila harus menjadi bagian dari solusi mestinya kiprahnya langsung turba ke masyarakat. Mengingat pengguna media internet yang intensitasnya tinggi dalam minat dan daya baca sangat rendah, kecuali kaum milenial yang fokus untuk pengembangan diri dan atau civitas akademik saja. Jadi, apakah masih perlu santri aktif di cybermedia ?
3) Sebagai santri aktif di pondok pesantren _aku penanya_ sangat variatif tingkat kemauan dan kemampuan dalam mengembangkan pemahaman kitabiyah. Barangkali tidak lebih dari lima puluh persen daripada santri yang mampu membaca dan memahami kitab-kitab klasik atau "kitab kuning". Jikalau kemudian dituntut untuk mampu menjadi solusi di masyarakat, sedangkan untuk dirinya sendiri saja belum siap jadi solusi. Apa yang harus kami lakukan ?
4) Bagaimana kaitannya dengan para pejabat negara yang kebetulan berasal dari kaum santri, namun ditemukan melakukan tindakan koruptif ?

Dengan ucapan bismillah wa alhamdulillah pemateri menanggapinya sebagai berikut.

Cak Kus, sebagaimana yang telah disampaikan bahwa santri bisa jadi solusi harus memulai dari diri sendiri. Bagaimana mereka mengembangkan integritas pola pikir dengan hati atau jiwa akan sangat nampak dari aktivitas, kreativitas, dan efektivitasnya ketika di pondok pesantren. Ketika masih santri aktif tunjukkanlah dengan kesabaran dan tanggung jawabnya menaati peraturan pondok pesantren. Baik dalam proses kegiatan mutholaah dan kajian kitab kuning serta ketaatan dan ketawadhuan terhadap pengasuh dan pengurus pondok pesantren. Kalau yang demikian itu sudah terbina dan terbiasa mulai dari pondok pesantren, Insyaallah ketika kembali ke masyarakat akan sanggup membawa dirinya dalam mewarnai kegiatan bermasyarakat yang positif dan ikhlas berbagi kebaikan, baik diminta ataupun tidak. Dan tidak dipungkiri bila terdapat pejabat negara yang koruptif sebab akan kembali pada ada integritas diri dan apabila ia santri, maka tentu sudah tidak bisa menjadi bagian dari Santri Solutif.

Pak Fathur sebagai pemateri yang berkaitan langsung dengan kajian "bagaimana santri bisa aktif dalam peradaban teks, peradaban media, dan peradaban panggung", penekanan dan tanggapannya juga seputar hal tersebut.

Menurutnya, sebagaimana Allah berfirman dalam al-quran pada ayat pertama Alquran diturunkan. Iqra' yang bermakna "bacalah !" harus dipahami dengan apresiasi dan intensitas yang tinggi. Harus ada perjuangan dari siapapun untuk memperoleh ilmu yang seluas-luasnya melalui membaca sesuai dengan kebutuhan, termasuk bagi santri aktif di pondok pesantren. Jikalau menginginkan ilmu barokah tidak sekedar DIAM, tapi ilmu akan diberikan kepada mereka yang bermujahadah, himmahnya tinggi, siap menjadi khodam pengasuh, bilamana perlu harus melakukan riyadhah sekalipun.

Tentang penggunaan HP di pondok pesantren, Pak Fathur mengakui bahwa dirinya adalah alumni salah satu pondok pesantren yang juga memberlakukan hal yang sama, tapi pada saat menjadi mahasiswa dirinya sangat kuat untuk mengembangkannya. Dan _akunya_ dirinya bukan "korban" aturan pondok pesantren, tapi segalanya akan kembali kepada kemauan diri untuk berkiprah dan berbagi kebaikan.

Sebagai salah satu terobosan, barangkali sudah perlu ada media internet di pondok pesantren yang bisa digunakan oleh santri, namun tetap dalam kendali pengurus dan pengasuh. Sedangkan untuk HP dirasa tidak perlu, kecuali bagi pengurus. Dan sekarang sudah banyak pondok pesantren yang mengembangkan minat dan bakat Santri dengan memanfaatkan media internet. Kita tidak boleh tabu dengan internet, pun jangan gaptek !

Mari kembangkan diri kita sebagai SANTRI, lalu berkiprahlah semaksimal kemampuan kita. Kita terjun dalam pengabdian kepada masyarakat dan gunakan media yang ada, termasuk media internet. Dengan apa kita akan memanfaatkan media komunikasi, apakah akan mengembangkannya dalam peradaban teks, dalam peradaban media, atau peradaban panggung. Semua akan kembali pada kemauan dan kesiapan kita.

Ayolah SANTRI harus siap jadi SOLUSI untuk diri sendiri, demikian jadi solusi bagi masyarakat ! Ayo kita mulai gunakan media internet, media televisi, dan media literasi untuk berkontestasi dengan mereka yang gencar membawa pemahaman yang eksklusif, garang, dan terkadang intoleran !

Sekali lagi, semua akan kembali kepada kita sebagai SANTRI, apakah akan menjadi bagian dari solusi atau biangkerok kehancuran dunia ?!

Santri, Ayo Siap Jadi Solusi !!!

*****
TAMAT

@hmad rasyid
#sekretaris_ikama
#sumenep_17062019

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali