Matrasit

Salam kenal... Namaku Ahmad Rasyid (nama pena) atau Matrasit, terlahir di Sumenep pada tanggal 6 Mei 1967. Mulai Maret 1988 berprofesi guru di Kabupaten ...

Selengkapnya

SANTRI, AYO JADI SOLUSI !

SANTRI, AYO JADI SOLUSI !

(Bagian 03)

Masih seputar kajian peran santri pada Sarasehan Santri yang diselenggarakan oleh Forum Komunikasi Mahasiswa Alumni Pondok Pesantren Matholiul Anwar (F-KAMMAI) Pangarangan, Sumenep pada Senin 10 Juni 2019 yang digelar di aula Graha Kemahasiswaan STKIP PGRI Sumenep, khususnya untuk materi dari pemateri kedua.

Menyorot dari sisi yang berbeda dengan pemateri sebelumnya yang fokus pada bagaimana integritas dibangun melalui olah rasa hati, budi, dan jiwa yang kemudian mewujudkan semangat juang dalam menjawab segi-segi persoalan yang terjadi di mata masyarakat. Sebagai seorang akademisi yang tentu berkutat dengan aspek penelitian, Bapak Dr. Fathurrasyid, M.Th.I memaparkan secara detail dan rinci persoalan bangsa di era digital. Khususnya kiat santri dalam menawarkan solusi terhadap persoalan bangsa yang terjadi belakangan ini yang tidak hanya merambah di negeri Indonesia, melainkan sudah mengglobal dan mendunia. Terlebih bagaimana santri milenial menghadapi kaum milenial digitalis yang energik dan dinamis, yaitu para kawula muda yang berada dalam rentang usia 15 sampai dengan 35 tahun.

Sehubungan dengan hal tersebut, Pak Fathur selaku pemateri kedua memaparkan subtema tentang bagaimana "Menjadi Santri di Era Digital dengan Meningkatkan Life Skill dan Kreativitas Berdakwah".

Menurutnya, yang mendasarkan hasil riset pada Mei 2019 oleh Setara Institute, Jakarta bahwa paham radikalisme semakin merebak di sepuluh perguruan tinggi negeri di Indonesia. Deru gelombang radikalisme tersebut dibawa oleh kelompok keagamaan ekslusif dengan ideologi salafi, tarbawi, dan tahriri. Kemudian ketiga ideologi tersebut berafiliasi kepada Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Ikhwanul Muslimin, dan Wahabi atau belakangan ini berbaju Salafi.

Inisiator dan kontributor yang vulgar memposisikan dirinya sebagai kelompok pembawa faham intoleran. Kelompok ini dengan semangat berapi-api disertai wajah yang cukup garang menjajahkan fahamnya secara massif- sistemik untuk semata menghanguskan _ kelompok pemuja bid'ah yang dholalah dan menyesatkan_, menurut versinya. Mereka berasal dari kalangan generasi muda yang terlahir sebagai "Muslim tanpa Masjid", yaitu kawula muda yang mendapatkan sentuhan gagasan keislaman bukan dari isntitusi pesantren, tetapi dari hasil liqa’, halaqah yang berpusat masjid-masijd kampus. (dalam terminologi Kuntowijoyo)

Dengan cukup tiga slide, Pak Fathur membeberkan trik yang perlu dipahami dan diimplementasikan bahwa dalam upaya menyikapi kepungan gagasan Islam Trans Nasional tersebut, khususnya bagi santri milenial harus memiliki life-skill yang meliputi tiga ranah: (a) Peradaban Teks; (b) Peradaban Media; dan (c) Peradaban Panggung.

Peradaban yang pertama adalah Peradaban Teks atau Hadlarat al-Nash / Literatur Pop Islamisme.

Adanya gagasan "jerit tangis" Islamiyah yang dipromosikan oleh kelompok Islamisme, salah-satunya melalui literatur Islamisme, baik offline maupun media online. Mereka berbekal motivasi keislaman yang berpropaganda ide-ide Islamisme ke dalam aspek pengembangan diri.

Beberapa literatur dapat dipetakan dalam riset tersebut sebagaimana berikut.

Pertama, Literatur Tahriri: semacam Retorika Khalifah yang disuarakan oleh Felix Y. Siauw dalam "Beyond The Inspiration" yang bercorak Klasik. Sedangkan yang bercorak Populer oleh Muhammad Isa dalam Novel trilogi yang berjudul "The Chronicles of Draculesti".

Kedua, Literatur Tarbawi, yang eksklusif dalam mempromosikan Kesalehan Baru. Sebagaimana tahriri, paham ini ada yang bercorak Klasik, seperti: Anis Matta dalam "Serial Cinta" dan "Sebelum Anda Mengambil Keputusan Besar Itu", lalu ada Cahyadi Takariawan dalam "Wonderful Family", dan Asma Nadia dengan Majalah Annida, serta Helvy Tiana Rosa dalan “Ketika Mas Gagah Pergi”. Adapun yang bercorak Populer adalah Salim A. Fillah dalam "Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan".

Ketiga, Literatur Salafi: Motivasi Diri. Sama dengan dua faham sebelumnya literatur yang diusungnya ada yang bercorak Klasik seperti: Abu Al-Ghifari dalam "Gelombang Kejahatan Seks Remaja Modern" dan "Kudung Gaul: Berjilbab Tapi Telanjang". Yang literatur Populer ada: 1) Asma Nadia dengan "La Tahzan for Hijabers", dan 2) Ahmad Rifai Rifan dengan judul "Man Shabara Zhafira: Success in life with Persistence".

Dari sekian literatur yang tersebut di atas baik kategori klasik ataupun populer, Pak Fathur dengan mereferensikan Najib Kailani, bahwa buku-buku literasi tersebut disuguhkan kepada pembaca terutama anak muda atau kaum milenial yang dikemas dengan baik, bertujuan untuk meraih simpati kawula muda yang cenderung tertarik dengan cover kemasan daripada media dakwah yang terkesan kaku dan monoton.

Berkaca pada fenomena tersebut, maka santri milenial dituntut untuk mempunyai life-skill agar bisa berkontribusi dalam Peradaban Teks dengan cara berkontestasi melahirkan literatur keislaman yang cukup moderat, lebih toleran dan inklusif. Pak Fathur kembali memberikan contoh sebagaimana yang telah digagas oleh Abidah el-Khaliqi dalam karya “Perempuan Berkalung Sorban”. Begitu juga karya sastra terbarunya Khilma Anis yang berjudul “Hati Suhita”.

Dengan cara yang demikian, literatur keislaman yang moderat dapat kita kuasai di tengah kepungan ideologi eksklusif dan intoleran yang memang dirancang secara sistemik dan masif, lebih-lebih dikhususkan pada kaum milenial.

*****

Insya Allah bersambung*

@hmad rasyid
#sekretaris_ikama
#Sumenep_11Juni2019

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali