Matrasit

Salam kenal... Namaku Ahmad Rasyid (nama pena) atau Matrasit, terlahir di Sumenep pada tanggal 6 Mei 1967. Mulai Maret 1988 berprofesi guru di Kabupaten ...

Selengkapnya

SANTRI, AYO JADI SOLUSI !

SANTRI, AYO JADI SOLUSI !
(Bagian 04)

Masih paparan materi bapak Dr. Fathurrasyid, M.Th.I dengan kiat "Menjadi Santri di Era Digital dengan Meningkatkan Life-Skill dan Kreativitas Berdakwah" pada Sarasehan Santri Senin, 10 Juni 2019.

Bagian ketiga reportase yang lalu telah dibahas tentang Peradaban Teks, pada bagian keempat ini merupakan lanjutan topik bahasan sebelumnya yaitu gagasan pemetaan kedua hasil riset Setara Institute, Jakarta pada Mei 2019 sebagaimana yang diungkapkan oleh Pak Fathur, yaitu Peradaban Media pada Sarasehan Santri.

Peradaban Media
(Hadlarat al-I’lamat atau Kustomisasi Agama)

Dengan mengutip pendapat Jensen Rivers dalam "Buku Theories of Human Communication", Pak Fathur menjelaskan bahwa perkembangan teknologi media telah mengubah alat-alat komunikasi menjadi lebih cepat merambahnya dalam membentuk sesuatu, sampai-sampai menganalogikan dunia sebagai sebuah desa yang sangat besar dan luas, yang disebut sebagai Global Village. Adapun generasi yang menjadi sasaran adalah digital native. Yaitu penduduk bumi yang sangat tinggi antusiasmenya dalam pemahaman dan pemanfaatan alat teknologi komunikasi, seperti: digital komputer, permainan video dan internet. Generasi digital native tersebut kemudian dikenal dengan Gen Y, Gen Z, dan Alfa.

Gayung bersambut, dengan kehadiran media internet yang masif dan menjadi instrumen yang efektif dalam memublikasikan sesuatu, termasuk di dalamnya tentang ajaran agama. Babak berikutnya agama bukan hanya milik pondok pesantren dan madrasah, melainkan sudah dihadirkan di ruang publik. Ketika agama sudah cendrung hadir dalam ruang publik, maka propaganda islamisasi dapat melarut dalam sektor politik, sosial, budaya, dan ekonomi. Islamisasi itulah yang melahirkan kastomisasi agama, yaitu penyesuaian corak Islam yang cocok dengan selera, menurut Ulil Abshar Abdullah.

Dampak negatif adanya kustomisasi agama antara lain:

Pertama, gejala konservatisme agama.
Sikap garang dan agresivitas kelompok Wahabi-Salafi yang konservatif merajai internet dalam memeroduksi bahan kajian hasil liqa dan halaqah. Situs-situs website mereka menyediakan fatwa-fatwa yang sengaja secara langsung untuk memporak-porandakan atau mengabu-abukan ajaran Islam yang dihantarkan secara konvensional dan tradisionalis-inklusif.

Maka konsekuensinya, jika mayoritas umat lebih memilih internet sebagai referensi utama dalam menjadikan ibrah terhadap masalah atau isu-isu keislaman, sementara bahan-bahan yang tersedia berifat konservatif, maka arah pemahaman tentang Islam dan perkembangan umat Islam lebih terarah pada selera mereka dan kemungkinannya akan menanggalkan kaidah ajaran yang mereka pahami sebelumnya.

Kedua, Ready to Use (Bahan Siap Tersedia).
Bahan-bahan berupa fatwa keislaman yang tersedia di internet baik melalui YouTube (MP4) atau digital teks sangat melimpah, beragam, ringkas, praktis, mudah, dan dangkal. Pak Fathur mengistilahkannya mirip seperti makanan fast food atau makanan instan yang siap saji kapanpun dipesan. Sebaliknya informasi yang detail mendalam cenderung tidak laku di era digital, sebab minat dan daya baca yang kian berkurang.

Tragisnya, seringkali ada kalangan yang mengklaim kelompok mereka lebih religius dari yang lain dengan hanya mengandalkan referensi internet.

Selanjutnya Pak Fathur menegaskan tentang konsekuensi fenomena tersebut bahwa jika antusiasme beragama yang dangkal bertemu dengan keinginan untuk mengentalkan identitas ketika berhadapan dengan kelompok lain, maka sangat potensial untuk merusak tatanan dan membobol keutuhan persaudaraan, condong intoleran.

Apalagi pewarnaan dan kristalisasi identitas tersebut disertai hate speech, dengan menuduh yang lain sebagai muslim yang tidak kaffah, pendosa, dan dholalah. Dampak selanjutnya akan memungkinkan terjadinya pertentangan atau disharmonisasi agama yang berujung pada konflik. Pengentelan konflik pun atas nama agama.

Dengan berlatar belakang fenomena di atas, maka santri milenial harus mempunyai life-skill dalam bidang teknologi informasi komunikasi. Yang bertujuan agar para santri dapat menjadi solusi yang mampu bersaing dan berkontribusi dalam peradaban media. Diharapkan para santri mampu menyuguhkan nilai-nilai keislaman yang ramah, rahmah, dan al-samhah al-hanifiyah (lebih menyeimbangkan), misalnya _ menurut Pak Fathur_ ala ahlus sunnah wal jama’ah al-Nahdliyyah di tengah merebaknya wajah Islam yang penuh fitnah, intoleran dan ekslusif di negeri Nusantara tercinta.

*****

*Insyaallah bersambung

@hmad rasyid
#sekretaris_Ikama
#Sumenep_12Juni2019

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali