Matrasit

Salam kenal... Namaku Ahmad Rasyid (nama pena) atau Matrasit, terlahir di Sumenep pada tanggal 6 Mei 1967. Mulai Maret 1988 berprofesi guru di Kabupaten ...

Selengkapnya

SANTRI, AYO JADI SOLUSI !

SANTRI, AYO JADI SOLUSI !

(Bagian 02)

Pada sarasehan "Santri, Ayo Jadi Solusi !" Yang diselenggarakan oleh Forum Komunikasi Mahasiswa Alumni Pondok Pesantren Matholiul Anwar (F-KAMMAI) Pangarangan Sumenep pada Senin, 10 Juni 2019 di aula Graha Kemahasiswaan STKIP PGRI Sumenep, Cak Kus sapaan akrab Kiai Kuswaidi Syafie didapuk sebagai penyaji pertama. Ia sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Maulana Rumi yang berdomisili di Sewon, Bantul, Yogyakarta menyajikan sebuah subtema "Integrasi Jiwa (an- Nafs), Budi, Hati dengan Semangat Berbangsa dan Bernegara".

Menurutnya, santri adalah seseorang yang menimba dan mendalami ilmu agama, khususnya agama Islam di lembaga-lembaga pesantren atau madrasah baik itu diasramakan ataupun non asrama sehingga benar-benar akan menjadi hamba Allah yang cerdas secara spiritual, sosial, dan intelektual. Yang pada gilirannya mereka diharapkan dapat menjadi solusi dari setiap masalah yang menerpa dirinya demikian juga dapat memberikan solusi sekaligus pencerahan kepada warga masyarakat sekitar.

Oleh sebab itu, Cak Kus secara lebih dalam memerinci perihal bagaimana seorang santri bisa menjadi solusi pemecahan masalah di masyarakat.

Solusi Bagi Diri Sendiri

Bagaimana mungkin seorang santri akan dapat memberikan pencerahan kepada warga masyarakat yang membutuhkan bilamana ia tak mampu memberi membawa dirinya di tengah masyarakat.

Ilmu agama yang diterima semestinya terintegrasi dalam perilaku diri pribadi, baik sikap spritual ataupun sikap sosial. Hal yang berkaitan aspek spiritual akan nampak pada tingkat kesabaran dan keistiqomahan dalam menjalankan syariat Islam serta bagaimana ia mampu bertoleransi dengan umat non muslim.

Suatu contoh, ia mampu menjalankan ibadah salat maktubah dan salat sunah lainnya dengan sebaik-baiknya. Secara aktif hadir ke masjid untuk melaksanakan salat maktubah secara berjamaah. Bahkan dengan salat yang khusuk sepenuh harapan Ridho dari Allah subhanahu wa ta'ala yang dapat menjadikannya terhindar dari perbuatan keji dan mungkar. Demikian juga untuk pelaksanaan peribadatan yang lainnya. Bagaimana mungkin santri akan mengajak warga masyarakat untuk beribadah dengan baik apabila dirinya belum menunjukkan keteladanan yang baik.

Ia tidak melepaskan hatinya untuk terus mengingat Allah, sebab diyakini hanya mereka yang mampu selalu menyebut asma Allah secara lisan yang tembus ke hati secara tak langsung akan berefek positif untuk tidak melakukan hal-hal yang berbau maksiat, syubhat, apalagi haram.

Nah, apabila hal-hal yang substantif berkaitan dengan spiritual pada gilirannya akan dapat meningkatkan segi intelektual. Bahkan produk intelektual akan selalu bernuansa spiritual yaitu dengan tidak melepaskan sandaran dirinya Allah sang Pencipta. Produk intelektual akan menjadi barokah yaitu bermanfaat bagi dirinya juga bagi orang lain.

Solusi Bagi Masyarakat

Seorang santri tidak akan pernah terlepas keterlibatannya dalam interaksi sosial. Ia dituntut untuk dapat berkomunikasi secara lebih santun dan arif bijaksana. Dapat mewujudkan perilaku nilai-nilai budi pekerti yang luhur sebagai pengejawantahan dari nilai ilmu agama yang diterimanya.

Perilaku tidak koruptif ditunjukkannya dalam bagaimana menaati dan menerima konsekuensi hukum yang berlaku, baik dalam bentuk dogma agama atau hukum negara demikian juga norma sosial kemasyarakatan. Ia akan menghindar dari perilaku hanya menguntungkan diri sendiri yang mengabaikan aspek-aspek hak dan kepentingan orang lain.

Dalam kondisi carut-marutnya perpolitikan negeri 'antah berantah' Indonesia sudah seharusnya santri mengambil bagian dengan mengedepankan konsep "perbedaan adalah semata untuk mengukuhkan persaudaraan". Konsep cinta damai tidak hanya dalam tataran ilmu murni semata, melainkan harus diterapkan dalam interaksi sosial dengan menjunjung nilai-nilai luhur peradaban manusia. Pribadi yang tawadhu akan selalu menghormati yang lebih tua dan mengayomi yang muda. Bukan dengan segi intelektualitas kemudian membuat dirinya menambah kekacauan dan kegalauan umat. Semisal Dengan bersemangatnya menyebarkan berita yang tidak benar atau hoax, yang kontennya hanya berisi fitnah, provokasi, pertentangan, dan pencemaran nama baik.

Ajak Cak Kus, kita harus sudah mulai mempropaganda untuk menyantrikan Indonesia. Artinya membudayakan perilaku berbagi kebaikan dan kemuliaan. Sebagaimana Gus Mus bahwa santri bukan hanya milik mereka yang aktif atau alumni pondok pesantren, melainkan jiwa santri sudah menjadi virus bagi setiap suku bangsa di Nusantara. Maka dengan diimplementasikannya karakteristik santri yang mengintegrasikan aspek hati, budi, dan jiwa akan menjadi pilot atau motivator pembangunan peradaban bangsa dan negara Indonesia sehingga tercipta "baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur" sebagaimana yang dicita-citakan oleh para pendiri negara Indonesia.

(Insya Allah bersambung)

@hmad rasyid

#sekretaris_ikama

#Sumenep, 11 Juni 2019

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Luar biasa Pak, uraian yang mantul semoga bisa kita terapkan bagi generasi islami kita, Barokallah

11 Jun
Balas

Terima kasih Aamiin

12 Jun
Balas

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali